Dalam hidup, akhir nggak selalu berarti selesai. Ada kalanya, akhir adalah awal bagi kemungkinan-kemungkinan baru yang menanti di depan mata. Di senja yang ngantuk ini, sambil nunggu temen yang belum tau jadi dateng apa nggak wkwkw, saya memutuskan untuk kembali mulai menulis. Sudah lamaaaaaaa sekali rasanya saya nggak menulis blog. Jangankan nulis blog, nulis panjang di socmed aja udah nggak deh rasanya. Tiga bulan belakangan ini kehidupan saya rasanya berpusat pada satu titik saja: kerja.
Ya, tiga bulan belakangan ini saya kebagian jatah rezeki bekerja di sebuah media kecantikan di daerah Jakarta, namanya Beautynesia. Seperti biasa, posisi yang saya tempati di bidang social media. Singkat cerita, saya shock. Wkwkwkw. Bekerja di Beautynesia memberikan saya begitu banyak pengalaman baru, style bekerja yang lebih terorganisir dibanding pekerjaan-pekerjaan saya sebelumnya, dan pace kerja yang lebih cepat.
Saya sempat terengah-engah sekali di awal, nggak biasa gitu loh wkwkw. Belum lagi ini pengalaman pertama saya dealing dengan atasan orang Jepang yang karakter beliau memang lebih strict dibanding atasa-atasan yang pernah saya punya. Meski di awal saya kewalahan sampai ingin menyerah, tapi ternyata berkat pertolongan dan kehendak-Nya, saya bisa melalui tiga bulan masa probation.
Tiga bulan yang sungguh kayak cuma sekelebatan mata, seperti laju KRL Jabodetabek. Rasanya baru kemarin saya nangis-nangis ngeluh pengen resign aja wkwkw, tahu-tahu tiga bulan sampai pada akhirnya. Dan seperti ditampar, ternyata saya nggak berhasil melalui masa probation.
Saya udah ngasih pre-caution sih dari lama ke diri sendiri, kalo nasib saya di situ tuh nggak pasti, jadi saya harus benar-benar menyiapkan hati seandainya saya nggak lolos probation. Saya sampai berkali-kali meng-azzam-kan (azek) dalam diri, saya mau meniru fighting spirit Timnas Korea di laga terakhir yang mereka jalani di penyisihan grup World Cup kemarin. Mereka sudah tahu, kesempatan menang dan bisa melaju ke perempat final itu sangat slim, bahkan nyaris ngga ada, tapi mereka tetap bermain dengan semangat juang tinggi sampai peluit akhir pertandingan berbunyi.
Nggak lolos kontrak atau masa probation sebenarnya bukan pengalaman pertama. Makanya saya sempat agak trauma, tapi kemudian saya pikir, toh ini bukan perngalaman pertama hahaha. Cuma saya mikir lagi, harus ada yang berbeda dari pengalaman sebelumnya. Jika sebelumnya saya menyadari betul, performa saya jauh dari baik, dan saya merasa pantas aja nggak dilanjut di situ, saya pengen kali ini tidak ada penyesalan, kala itu saya pikir gitu. Sering saya berpikir seperti itu di masa probation saya kemarin.
Yah, meski pada akhirnya, tetep aja ada banyak hal yang belum maksimal yang saya lakukan, dan masih ada hal-hal yang harus saya perbaiki, tapi sedikit lebih baik dari pengalaman sebelumnya. Dan saya bener-bener belajar banyak selama bekerja di sana. Belajar tenang menghadapi pressure, belajar bekerja lebih cepat dibanding speed kerja saya sebelumnya, belajar untuk fokus, belajar untuk management perasaan hahaha. Saya belajar dari mengamati rekan kerja sekeliling saya, SPV saya yang keren, rekan satu tim yang juga keren, dan saya pun menanamkan wejangan dari CEO saya di saat evaluasi probation saya dua minggu lalu yang salah satunya,
"Jangan bekerja seperti robot."
Itu nasihat yang jleb banget buat saya yang rentan terjebak rutinitas karna ngga punya goal jelas. Tiap orang mungkin emang punya permasalahan dan treatment berbeda ya, dan saya jadi menyadari bahwa saya benar-benar harus punya goal jelas saat mengerjakan pekerjaan saya. Dan lebih baik lagi tertulis, lengkap dengan planning barangkali, report dan KPI sekalian kalo perlu wkwkwkw. Dan itu yang sedang ingin saya lakukan sekarang, makanya tadi sore bela-belain belanja alat tulis baru di TM Bookstore.
| Kenangan Manis Berfoto di Hari Batik :') |
![]() |
| Thank you so much for the sweet and melancholic memories, dear Beautynesia :) |


