Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2018

[RACAU] Owari wa Hajimari; Ketika Akhir Menjadi Awal



Dalam hidup, akhir nggak selalu berarti selesai. Ada kalanya, akhir adalah awal bagi kemungkinan-kemungkinan baru yang menanti di depan mata. Di senja yang ngantuk ini, sambil nunggu temen yang belum tau jadi dateng apa nggak wkwkw, saya memutuskan untuk kembali mulai menulis. Sudah lamaaaaaaa sekali rasanya saya nggak menulis blog. Jangankan nulis blog, nulis panjang di socmed aja udah nggak deh rasanya. Tiga bulan belakangan ini kehidupan saya rasanya berpusat pada satu titik saja: kerja. 

Ya, tiga bulan belakangan ini saya kebagian jatah rezeki bekerja di sebuah media kecantikan di daerah Jakarta, namanya Beautynesia. Seperti biasa, posisi yang saya tempati di bidang social media. Singkat cerita, saya shock. Wkwkwkw. Bekerja di Beautynesia memberikan saya begitu banyak pengalaman baru, style bekerja yang lebih terorganisir dibanding pekerjaan-pekerjaan saya sebelumnya, dan pace kerja yang lebih cepat. 

Saya sempat terengah-engah sekali di awal, nggak biasa gitu loh wkwkw. Belum lagi ini pengalaman pertama saya dealing dengan atasan orang Jepang yang karakter beliau memang lebih strict dibanding atasa-atasan yang pernah saya punya. Meski di awal saya kewalahan sampai ingin menyerah, tapi ternyata berkat pertolongan dan kehendak-Nya, saya bisa melalui tiga bulan masa probation.

Tiga bulan yang sungguh kayak cuma sekelebatan mata, seperti laju KRL Jabodetabek. Rasanya baru kemarin saya nangis-nangis ngeluh pengen resign aja wkwkw, tahu-tahu tiga bulan sampai pada akhirnya. Dan seperti ditampar, ternyata saya nggak berhasil melalui masa probation.

Saya udah ngasih pre-caution sih dari lama ke diri sendiri, kalo nasib saya di situ tuh nggak pasti, jadi saya harus benar-benar menyiapkan hati seandainya saya nggak lolos probation. Saya sampai berkali-kali meng-azzam-kan (azek) dalam diri, saya mau meniru fighting spirit Timnas Korea di laga terakhir yang mereka jalani di penyisihan grup World Cup kemarin. Mereka sudah tahu, kesempatan menang dan bisa melaju ke perempat final itu sangat slim, bahkan nyaris ngga ada, tapi mereka tetap bermain dengan semangat juang tinggi sampai peluit akhir pertandingan berbunyi. 

Nggak lolos kontrak atau masa probation sebenarnya bukan pengalaman pertama. Makanya saya sempat agak trauma, tapi kemudian saya pikir, toh ini bukan perngalaman pertama hahaha. Cuma saya mikir lagi, harus ada yang berbeda dari pengalaman sebelumnya. Jika sebelumnya saya menyadari betul, performa saya jauh dari baik, dan saya merasa pantas aja nggak dilanjut di situ, saya pengen kali ini tidak ada penyesalan, kala itu saya pikir gitu. Sering saya berpikir seperti itu di masa probation saya kemarin.
Yah, meski pada akhirnya, tetep aja ada banyak hal yang belum maksimal yang saya lakukan, dan masih ada hal-hal yang harus saya perbaiki, tapi sedikit lebih baik dari pengalaman sebelumnya. Dan saya bener-bener belajar banyak selama bekerja di sana. Belajar tenang menghadapi pressure, belajar bekerja lebih cepat dibanding speed kerja saya sebelumnya, belajar untuk fokus, belajar untuk management perasaan hahaha. Saya belajar dari mengamati rekan kerja sekeliling saya, SPV saya yang keren, rekan satu tim yang juga keren, dan saya pun menanamkan wejangan dari CEO saya di saat evaluasi probation saya dua minggu lalu yang salah satunya,

"Jangan bekerja seperti robot." 

Itu nasihat yang jleb banget buat saya yang rentan terjebak rutinitas karna ngga punya goal jelas. Tiap orang mungkin emang punya permasalahan dan treatment berbeda ya, dan saya jadi menyadari bahwa saya benar-benar harus punya goal jelas saat mengerjakan pekerjaan saya. Dan lebih baik lagi tertulis, lengkap dengan planning barangkali, report dan KPI sekalian kalo perlu wkwkwkw. Dan itu yang sedang ingin saya lakukan sekarang, makanya tadi sore bela-belain belanja alat tulis baru di TM Bookstore. 



(tebak harganya total berapa, hahahaha)

Dan di sore yang syahdu ngantuk butuh ngopi lagi ini, saya pun udah mulai mengisi planning buat pekan ini, dan pekan depan. Nggak saya banget deh wkwkwkw. Yup gaes, saya udah punya jadwal beberapa hari ke depan, ketemu si ini itu, dateng ke event ini itu, dan ngebolang bersama Kak Laila ke Bogor ihiyyy. Saya udah kayak orang yang lama dikerangkeng terus dibebasin, langsung ngincer mau dateng ke event mana aja. Saya mikir-mikir, selama tiga bulan kerja di Beautynesia, saya benar-benar ditempa untuk disiplin waktu. Berangkat pagi hari dengan busway, harus sampai di kantor sebelum 9.29 kalo nggak mau kena potong gaji wkwkw. Dan saya bahkan pernah beberapa kali datang cukup pagi sampe saya sempet untuk Dhuha dulu hehe. Nah, maka dari itu, saya harus menjaga pace hidup yang sudah terjaga cukup cepat (ukuran saya loh yaaaa hehe) selama tiga bulan kemarin. Agar saya menjalani hidup tidak seperti robot, agar hidup lebih hidup. Agar hidup bukan sekadar to live tapi jadi to be alive hazeeeeek. 

Owari wa hajimari


Akhir adalah awal. 

Meski kemarin sempet sedih banget banget karena yaaaaaa masih ada perasaan sesal yang tinggal, dan dimana-mana yang namanya perpisahan pasti sedih yes, hidup pada akhirnya harus terus berjalan. Life must goes on beb. Semoga akhir karier saya di Beautynesia kemarin, menjadi tunas bagi kehidupan baru yang lebih baik. Menjadi pintu menuju impian yang baru--atau tepatnya impian sejak lama yang mulai mewujud lebih nyata. Azeeeek.

Ngantuk euy ngantuk, ngopi dulu lah ngopi wkwkwkw.

Kenangan Manis Berfoto di Hari Batik :')



Thank you so much for the sweet and melancholic memories, dear Beautynesia :)










Jumat, 23 Juni 2017

Sebuah Renungan Penghujung Ramadhan

Kepalaku tertunduk lesu seketika setelah membaca sebuah pesan di salah satu grup Whatsapp. Ah ... inikah sesungguhnya perasaan kecewa yang mendalam setelah melambungkan harapan? Sebenarnya ini bukan kecewa yang pertama, aku sudah pernah berkali-kali kecewa. Namun waktu yang bergulir seperti menggerus kenangan pedih tentang harapan yang pupus.

Tapi di malam ini, rasa kecewa itu kembali kukecap. Rasanya menusuk hingga ke dalam dan derai air mata tanpa kumengerti mengalir dengan tak terbendung. Gagal lagi. Terbang menghilang kembali asa yang sempat memercik di dada. Kusembunyikan air mata melalui mushaf pink yang tengah kupegang. Airnya merembes membasahi lembarannya. Seketika beragam pemikiran menghampiri.

Tiba-tiba aku seperti diingatkan akan penderitaan yang dialami mungkin jutaan orang lainnya. Saat malam kemenangan tiba, dan orang-orang di sekitar merayakan dengan membeli baju baru, makanan yang mengenyangkan lagi mahal. Namun ada orang-orang yang hanya bisa menatap hampa di emperan toko yang hiruk-pikuk dengan kesibukan menyambut hari raya. Dalam hitungan nano detik, wajah-wajah penuh debu dan baju yang coreng-moreng dengan kotoran terbit di mataku. Lebih jauh lagi, aku merasa aku adalah mereka. Lesak air mata semakin tak terbendung saat mengingat nestapa mereka.... Mungkin ini caranya, Ia ingin mengingatkan hamba-hamba-Nya bahwa ada orang di luar sana yang tidak bisa merasakan meriahnya lebaran karena mereka tak punya cukup uang. Kesedihan adalah cara Allah menyentuh sisi empati manusia, ya mungkin itu salah satu maksud dari semua ini.

Air mataku telah surut kini. Namun kisah itu masih terngiang. Aku masih mencoba merajut berbagai hikmah yang mungkin Allah ingin sampaikan pada kami; hamba-Nya. Lalu ku kembali terkenang kisah sosok-sosok yang lain. Mereka yang ditahan sebagian rezeki yang diidamkan, namun pada akhirnya diberikan di waktu yang sungguh terbaik. Atau bahkan kisahku sendiri, ketika rezekiku diambil karena itulah yang terbaik bagi diriku...

Ya, memang sebenarnya perkara seorang mukmin sungguhlah ajaib, seperti apa yang pernah Rasulullah SAW sabdakan. Semuanya bisa bernilai kebaikan jika kita mau terus berbaik sangka pada-Nya. Dan sungguh Allah pun berfirman bahwa Ia sesuai prasangka hamba-Nya....

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).


Cinere, Ramadhan Day 28

4 Jenis Skincare Ini Wajib Kamu Jalani Agar Wajahmu Awet Muda

Sumber: https://content.mybeautymatches.com/dist_1.0/editorial/Korean-Skin-care-1.jpg Pernah enggak Ladies, saat bercermin, kamu m...